Minggu, 10 Januari 2016

Kritik Arsitektur Jl. Margonda Raya Depok



Kritik Arsitektur Jl. Margonda Raya Depok
(Batas Juanda – Tugu Jam)
ABSTRAKSI

Rizki Fachurohman,
Kritik Arsitektur Pedestrian Jl. Margonda Raya Depok
Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan.
Universitas Gunadarma.

Kawasan Jl. Margona Raya Depok merupakan kawasan yang menjadi landmark kota Depok. Pada Kawasan Jl. Margona Raya Depok  ini, setiap orang menuju ke pusat kota hampir dipastikan melewati Jl. Margona Raya Depok. Jl. Margona Raya Depok cukup strategis karena dapat dicapai oleh segala lapisan masyarakat dari berbagai sarana transportasi. Berbagai kegiatan masyarakat.
Sebagian pedestrian digunakan untuk kegiatan selain pejalan kaki dan masih ada tersisa ruang untuk pejalan kaki. Namun di Jl. Margona Raya Depok terdapat kecenderungan pejalan kaki tidak menggunakan jalur pedestrian tersebut untuk sirkulasi dan memilih berjalan di badan jalan dan jalan raya. Adanya berbagai macam masalah tersebut sehingga aktivitas yang ada tidak berjalan seperti semestinya
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan fungsi dan kenyamanan jalur pedestrian dan pola perilaku pejalan kaki di Jl. Margona Raya Depok. Analisis data menggunakan analisis kualitatif yang digunakan untuk menjelaskan hasil survey yang dilakukan di Jl. Margona Raya Depok dengan hasil tinjauan pustaka tentang jalur pedestrian.
Hasil penelitian penunjukkan bahwa ternyata jalur pedestrian di Jl. Margona Raya Depok apabila ditinjau dari fungsi dan kenyamanan sudah tidak sesuai lagi dengan teori yang ada. Hal ini dikarenakan banyaknya aktivitas lain yang menggunakan jalur pedestrian tersebut selain untuk aktivitas berjalan. Jalur pedestrian sebenarnya merupakan ruang terbuka yang seharusnya digunakan untuk aktivitas berjalan untuk pejalan kaki sehingga tidak  akan  merubah  pola  perilaku  pejalan  kaki  dalam  menggunakan  jalur  pedestrian tersebut.


Kata Kunci: Jalur pedestrian, Fungsi dan kenyamanan

BAB I

PENDAHULUAN




1.1              Latar Belakang

Di era modern sekarang, dalam tata ruang kota jalur pejalan kaki merupakan elemen yang sangat penting. Selain karena memberikan ruang yang khusus bagi pejalan kaki, jalur pejalan kaki juga memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pejalan kaki yang melintasi jalur tersebut. Oleh kerena itu, ruang pejalan kaki sangat berperan dalam menciptakan lingkungan yang manusiawi.
Pejalan kaki adalah orang yang bergerak dalam satu ruang, yaitu dengan berjalan kaki. Dalam berjalan kaki, Shirvani (1985) mengatakan bahwa penggunanya memerlukan jalur khusus yang disebut juga dengan pedestrian, yang merupakan salah satu dari elemen- elemen perancangan kawasan yang dapat menentukan keberhasilan dari proses perancangan di suatu kawasan kota. 
Pedestrian juga diartikan sebagai pergerakan atau sirkulasi perpindahan manusia/ pengguna dari satu tempat asal (origin) menuju ke tempat yang ditujunya (destination) dengan berjalan kaki.
Sebagai layaknya kota besar lainnya, Depok senantiasa memiliki kompleksitas permasalahan perkotaan yang semakin meningkat. Masukan bagi perancang kota yang berorientasi pada pejalan kaki di Indonesia pada umumnya khususnya suatu kajian fungsi jalur pedestrian di Jl. Margonda Raya ditinjau dari aspek kenyamanan penggunanya.
Kawasan Jl. Margonda Depok merupakan kawasan yang menjadi landmark kota Depok. Pada Kawasan Jl. Margonda Depok ini, setiap orang menuju ke pusat kota hampir dipastikan melewati Jl. Margonda Depok. Jl. Margonda Depok cukup strategis karena dapat dicapai oleh segala lapisan masyarakat dari berbagai sarana transportasi.
Sebagian pedestrian digunakan untuk kegiatan selain pejalan kaki dan masih ada tersisa ruang untuk pejalan kaki. Namun di Jl. Margonda Depok terdapat kecenderungan pejalan kaki tidak menggunakan jalur pedestrian tersebut untuk sirkulasi dan memilih berjalan di badan jalan dan jalan raya. Adanya berbagai macam masalah seperti parkir liar/parkir yang menutupi pedestrian, lebar pedestrian yang sempit dan rusaknya jalan pedestrian sehingga aktivitas yang ada tidak berjalan seperti semestinya.
Oleh karena itu sudah seharusnya pedestrian margonda depok perlu di kritik dan diberi solusi agar pedestrian Jl. Margonda Raya Depok ini dapat digunakan dengan nyaman. Aman, dan sejuk untuk pengguna pedestrian.

1.2              Batasan Masalah
Bagaimana membuat sebuah pedestrian/tempat pejalan kaki dengan aman, nyaman dan memiliki tata hijau supaya pedestrian di kota depok dapat berfungsi sesuai dengan fungsi aslinya.

1.3              Rumusan Masalah
Agar tidak menyimpang dari pokok pembahasan yang akan dibahas dan lebih memahami judul di atas, maka timbulah beberapa pertanyaan guna untuk membatasi pembahasan ini yaitu :
1.      Bagaimana merancang pedestrian dengan nyaman dan memiliki tata hijau ?
2.      Bagaimana merancang pedestrian supaya dapat berfungsi sesuai dengan fungsi aslinya ?

1.4              Tujuan
Tujuan dari kritik arsitektur ini adalah untuk mengetahui dan memahami maslah – masalah yang ada di kawasan perkotaan.
·         Memperoleh pengetahuan dan wawasan dalam meneliti perancangan yang baik.
·         Memahami fungsi dari pedestrian yang baik.

1.5              Sistematika Penulisan
Secara garis besar, penulisan apresiasi budaya ini terdiri dari lima bab, dapat dideskripsikan sebagai berikut :
BAB I               PENDAHULUAN
Menjabarkan tentang latar belakang permasalahan, maksud dan tujuan, lingkup perancangan, batasan dan asumsi, metode perancangan dan sistematika laporan.
BAB II             KAJIAN PUSTAKA
Pada bab ini penulis akan memberi acuan tentang teori – teori yang bersangkutan dengan permasalahan yang dikaji. Kajian yang menguraikan pustaka/literatur untuk dapat menjelaskan materi yang diambil dan di buat dalam rangkuman untuk mempermudah menguraikan sebuah analisa.
BAB III            ANALISA PEMBAHASAN
Menganalisa permasalahan yang terjadi di lapangan selama proses pengamatan dilihat dari segi keuntungan, kerugian, efisiensi serta cara penyelesaiannya.
BAB IV            KESIMPULAN
Menyimpulkan hasil pembahasan masalah pengawasan pekerjaan yang telah dibahas pada bab sebelumnya dan dilengkapi pula dengan saran-saran yang dapat membantu dalam pelaksanaan proyek tersebut.

1.6              Metode Penulisan
1.      Studi Pustaka
Yaitu mengambil dari beberapa sumber antara lain buku-buku, dan sumber-sumber lain yang bisa menjawab permasalahan dengan pemecahan yang mendasar.

2.      Studi Lapangan
Melakukan studi di lapangan secara langsung, yang di lakukan dengan mengumpulkan data- data yang di perlukan untuk penyusunan laporan ini.
  

BAB II

KAJIAN PUSTAKA



2.1              Pengertian Pedestrian
Istilah pejalan kaki atau pedestrian berasal dari bahasa Latin pedesterpedestris yaitu orang yang berjalan kaki atau pejalan kaki.
Pedestrian  juga  berasal  dari  kata  pedos  bahasa  Yunani  yang berarti kaki sehingga pedestrian dapat diartikan sebagai pejalan kaki atau orang yang berjalan kaki.
Pedestrian juga diartikan sebagai pergerakan atau sirkulasi atau perpindahan orang atau manusia dari satu tempat ke titik asal (origin) ke tempat lain sebagai tujuan (destination) dengan berjalan kaki (Rubenstein,1992).
Jalur pedestrian merupakan daerah yang menarik untuk kegiatan sosial, perkembangan jiwa dan spiritual, misalnya untuk bernostalgia, pertemuan mendadak, berekreasi, bertegur sapa dan sebagainya.
Jadi jalur pedestrian adalah tempat atau jalur khusus bagi orang berjalan kaki. Jalur pedestrian pada saat sekarang dapat berupa trotoar, pavement, sidewalk, pathway, plaza dan mall.
Jalur pedestrian yang baik harus dapat menampungsetiap kegiatan pejalan    kaki    dengan    lancar    dan    aman.    Persyaratan    ini    perlu
dipertimbangkan   di  dalam  perancangan  jalur  pedestrian.  Agar  dapat menyediakan  jalur  pedestrian  yang  dapat  menampung  kebutuhan kegiatan-kegiatan tersebut maka perancang perlu mengetahui kategori perjalanan  para  pejalan  kaki  dan  jenis-jenis  titik  simpul  yang  ada  dan menarik bagi pejalan kaki.
Jalur pedestrian sebagai unit ruang kota keberadaannya dirancang secara terpecah-pecah  dan menjadi sangat tergantung  pada kebutuhan jalan sebagai sarana sirkulasi.
Menurut Murtomo dan Aniaty (1991) jalur pedestrian di kota-kota besar mempunyai fungsi terhadap perkembangan kehidupan kota, antara lain adalah:
1. Pedestrianisasi dapat menumbuhkan aktivitas yang sehat sehingga mengurangi kerawanan kriminalitas
2. Pedestrianisasi  dapat  merangsang  berbagai  kegiatan  ekonomi sehingga akan berkembang kawasan bisnis yang menarik
3. Pedestrianisasi  sangat  menguntungkan  sebagai  ajang  kegiatan promosi, pameran, periklanan, kampanye dan lain sebagainya
4.  Pedestrianisasi  dapat  menarik  bagi  kegiatan  sosial,  perkembangan jiwa dan spiritual
5. Pedestrianisasi mampu menghadirkan suasana dan lingkungan yang spesifik, unik dan dinamis di lingkungan pusat kota
6. Pedestrianisasi berdampak pula terhadap upaya penurunan tingkat pencemaran  udara  dan suara  karena  berkurangnya  kendaraan bermotor yang lewat
Fungsi  jalur  pedestrian  yang  disesuaikan  dengan  perkembangan kota adalah sebagai fasilitas pejalan kaki, sebagai unsur keindahan kota, sebagai  media  interaksi  sosial,  sebagai  sarana  konservasi  kota  dan sebagai tempat bersantai serta bermain.
Sedangkan kenyamanan dari pejalan kaki dalam berjalan adalah adanya fasilitas-fasilitas yang mendukung kegiatan berjalan dan dapat donikmatinya kegiatan berjalan tersebut tanpa adanya gangguan dari aktivitas lain yang menggunakan jalur tersebut.
Fungsi jalur pedestrian yang sesuai dengan kondisi kawasan Jl. Pahlawan Semarang adalah jalur pedetrian dapat menumbuhkan aktivitas yang sehat sehingga mengurangi kerawanan kriminalitas, menguntungkan sebagai sarana promosi dan dapat menarik bagi kegiatan sosial serta pengembangan jiwa dan spiritual.
Jalan  dipergunakan  juga  dalam  kata  kerja  berjalan,  selain  itu diartikan sebagai road, yaitu suatu media diatas bumi yang memudahkan manusia dalam tujuan berjalan. Jalan dapat diklarifikasikan dengan membedakan jalur-jalur jalan menjadi jalur cepat dan jalur lambat
Pejalan   kaki  sebagai   istilah   aktif  adalah   orang/manusia   yang bergerak  atau  berpindah  dari  suatu  tempat  titik tolak  ke tempat  tujuan tanpa  menggunakan  alat  lain,  kecuali  mungkin  penutup/  alas  kaki  dan tongkat yang tidak bersifat mekanis
Pejalan kaki adalah orang yang melakukan perjalanan dari satu tempat asal (origin) tanpa kendaraan untuk mencapai tujuan atau tempat (destination) atau dengan maksud lain. Kemudian dari pengertian tersebut pejalan kaki dalam penelitian ini adalah orang yang melakukan perjalanan atau aktivitas di ruang terbuka publik tanpa mengguankan kendaraan.
Shirvani (1985), mengatakan bahwa jalur pejalan kaki harus dipertimbangkan sebagai salah satu perancangan kota. Jalur pejalan kaki adalah bagian dari kota dimana orang bergerak dengan kaki, biasanya disepanjang sisi jalan. Fungsi jalur pejalan kaki adalah untuk keamanan pejalan kaki pada waktu bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain.

2.2            Fasilitas Jalur Pedestrian
Menurut Iswanto (2006), ada terdapat beberapa macam fasilitas yang disediakan bagi pedestrian, antara lain:
1. Jalur pedestrian terpisah dengan jalur kendaraan, yaitu dengan membuat permukaan, serta ketinggian yang berbeda.
2. Jalur pedestrian untuk menyeberang, yaitu dapat berupa zebra cross, jembatan penyeberangan, atau jalur penyeberangan bawah tanah.
3. Jalur pedestrian yang rekreatif, yaitu terpisah dengan jalur kendaraan bermotor serta disediakan bangku- bangku untuk istirahat.
4. Jalur pedestrian dengan sisi untuk tempat berdagang, biasanya di komplek pertokoan.

2.3            Elemen - elemen pada Jalur Pedestrian
Pada jalur pedestrian yang keberadaannya sangat diperlukan oleh para pejalan kaki, umumnya terdapat elemen- elemen atau disebut juga dengan perabot jalan (street furniture) didalamnya. Hal ini difungsikan untuk melindungi pejalan kaki yang melakukan aktivitas pada pedestrian dengan menciptakan rasa aman dan nyaman terhadapnya.
Menurut Rubenstein (1992), elemen– elemen yang harus terdapat pada jalur pedestrian antara lain :
1. Paving, adalah trotoar atau hamparan yang rata. Dalam meletakkan paving, sangat perlu untuk memperhatikan pola, warna, tekstur dan daya serap air. Material paving meliputi: beton, batu bata, aspal, dan sebagainya.



Gambar 2.1 Paving sebagai elemen yang harus terdapat pada jalur pedestrian


2.  Lampu,  adalah  suatu  benda  yang  digunakan  sebagai penerangan  di  waktu malam hari. Ada beberapa tipe lampu yang merupakan elemen penting pada pedestrian (Chearra, 1978), yaitu:
a. Lampu tingkat rendah, yaitu lampu yang memiliki ketinggian dibawah mata manusia.
b. Lampu mall, yaitu lampu yang memiliki ketinggian antara 1- 1,5 meter.
c. Lampu khusus, yaitu lampu yang mempunyai ketinggian rata-rata 2-3 meter. d.  Lampu  parkir  dan  lampu  jalan  raya,  yaitu  lampu  yang  mempunyai ketinggian antara 3- 5 meter.
e. Lampu tiang tinggi, yaitu lampu yang mempunyai ketinggian antara 6-10 meter.
Gambar 2.2 Lampu tiang tinggi sebagai elemen yang harus terdapat pada jalur pedestrian
3. Sign atau tanda, merupakan rambu-rambu yang berfungsi untuk  memberikan suatu tanda, baik itu informasi maupun larangan. Sign haruslah gampang dilihat dengan jarak mata manusia memandang dan gambar harus kontras serta tidak menimbulkan efek silau.
 
Gambar 2.3 Sign/ tanda sebagai elemen yang harus terdapat pada jalur pedestrian

4. Sculpture, merupakan suatu benda yang memiliki fungsi untuk memberikan suatu identitas   ataupun untuk menarik perhatian mata pengguna jalan.
 
Gambar 2.4 Sculpture sebagai elemen yang harus terdapat pada jalur pedestrian

5.   Pagar pembatas, mempunyai fungsi sebagai pembatas antara jalur  pedestrian dengan jalur kendaraan.




Gambar 2.5 Pagar pembatas sebagai elemen yang harus terdapat pada jalur pedestrian


6.  Bangku,  mempunyai  fungsi  sebagai  tempat  untuk  beristirahat bagi  para pengguna jalan.




Gambar 2.6 Bangku sebagai elemen yang harus terdapat pada jalur pedestrian


7. Tanaman peneduh, mempunyai fungsi sebagai pelindung dan penyejuk area pedestrian. Ciri- ciri tanaman peneduh yang baik adalah sebagai berikut:
a.   Memiliki ketahanan yang baik  terhadap pengaruh udara maupun cuaca. b.   Daunnya bermassa banyak dan lebat.
c.   Jenis dan bentuk pohon berupa akasia, tanaman tanjung dan pohon- pohon yang memiliki fungsi penyejuk lainnya.




Gambar 2.7 Tanaman peneduh sebagai elemen yang harus terdapat pada jalur pedestrian


8.  Telepon umum, mempunyai fungsi sebagai sarana untuk pengguna jalan agar bisa berkomunikasi jarak jauh terhadap lawan bicaranya.



Gambar 2.8 Telepon umum sebagai elemen yang harus terdapat pada jalur pedestrian


9.  Kios, shelter, dan kanopi, keberadaannya dapat untuk menghidupkan suasana pada jalur pedestrian sehingga tidak biasa dan menimbulkan aura yang tidak biasanya. Berfungsi sebagai tempat menunggu angkutan dan sebagainya.

                       



Gambar 2.9 Shelter sebagai elemen yang harus terdapat pada jalur pedestrian

10. Jam,  tempat  sampah.  Jam  berfungsi  sebagai  petunjuk  waktu.  Sedangkan tempat sampah berfungsi sebagai sarana untuk pejalan kaki yang membuang sampah, agar pedestrian tetap nyaman dan bersih.




Gambar 2.10 Tempat sampah sebagai elemen yang harus terdapat pada jalur pedestrian
  

2.4    Persyaratan Jalur Pedestrian



Agar  pengguna  pedestrian  lebih  leluasa,  aman  serta  nyaman  dalam mengerjakan aktivitas didalamnya, pedestrian haruslah memenuhi syarat- syarat dalam perancangannya.
Menurut Iswanto (2003), syarat- syarat rancangan yang harus dimiliki jalur pedestrian agar terciptanya jalur pejalan kaki yang baik adalah sebagai berikut:
1. Kondisi permukaan bidang pedestrian:

- Haruslah kuat, stabil, datar dan tidak licin.

-  Material  yang  biasanya  digunakan  adalah  paving  block,  batubata,  beton, batako, batu alam, atau kombinasi- kombinasi dari yang telah disebutkan.
2. Kondisi daerah- daerah peristirahatan:

- Sebaiknya dibuat pada jarak- jarak tertentu dan disesuaikan dengan skala jarak kenyamanan berjalan kaki,
- Biasanya berjarak sekitar 180 meter.

3. Ukuran tanjakan (ramp):

- Ramp dengan kelandaian di bawah 5% untuk pedestrian umum.

- Ramp dengan kelandaian mencapai 3% penggunaannya lebih praktis.

- Ramp dengan kelandaian 4% sampai dengan 5% harus memiliki jarak sekitar

165 cm.

- Ramp dengan kelandaian di atas 5% dibutuhkan desain khusus.

4. Dimensi pedestrian:

Dimensi pedestrian berdasarkan jumlah arah jalan:

- Lebar minimal sekitar 122 cm untuk jalan satu arah.

- Lebar minimal sekitar 165 cm untuk jalan dua arah. Dimensi pedestrian berdasarkan kelas jalan:

- Jalan kelas 1, lebar jalan 20 meter, lebar pedestrian 7 meter.

- Jalan kelas 2, lebar jalan 15 meter, lebar pedestrian 3,5 meter.

- Jalan kelas 3, lebar jalan 10 meter, lebar pedestrian 2 meter. Dimensi pedestrian berdasarkan daerah atau lingkungannya:
- Lingkungan pertokoan, lebar pedestrian 5 meter.

- Lingkungan perkantoran, lebar pedestrian 3,5 meter.

- Lingkungan perumahan. Lebar pedestrian 3 meter.

5. Sistem penerangan dan perlindungan terhadap sinar matahari:

- Penerangan pada malam hari di sepanjang jalur pedestrian daya minimal yang digunakan adalah sebesar 75 Watt.
-  Perlindungan  terhadap  sinar  matahari  dapat  dilakukan  dengan  menanam pepohonan peneduh pada jarak tertentu.
6. Sistem pemeliharaan:

-  Pembersihan pedestrian dan elemen- elemen didalamnya.

-  Pengangkutan sampah.

-  Penggantian material dan elemen yang sudah tidak layak pakai.

-  Penyiraman tanaman.

-  Pemupukan tanaman.

-  Pemangkasan tanaman.

7. Kondisi struktur drainase:

Struktur drainase haruslah memperhatikan arah kemiringan, yang fungsinya bisa membantu mengalirkan air hujan yang mungkin dapat menggenang.
8. Kondisi tepi jalan

Tepi  jalan  disyaratkan  tidak  boleh  melebihi  ukuran  tinggi  maksimal  satu langkah kaki, yaitu sekitar 15 cm sampai dengan 16,5 cm.
9. Kondisi daerah persimpangan jalan

Sistem peringatan kepada pengendara dan pengguna pedestrian:

- Perlu dilengkapi signage untuk membantu pengguna pedestrian melakukan aktivitasnya, seperti menyeberang.
-   Signage,   khususnya   tanda-   tanda   lalulintas   sebaiknya   dedesain   tidak menyilaukan, mudah dilihat dan diletakkan pada ketinggian sekitar 2 meter.


Jalur penyeberangan pedestrian:

- Dirancang untuk mempertegas lokasi penyeberangan pedestrian, yaitu harus mudah dilihat pengendara kendaraan maupun pengguna pedestrian.
- Menggunakan materian bertekstur untuk melukiskan bentuk dan batas jalur pedestrian.
- Signage yang digunakan sebaiknya berlatar belakang gelap dengan huruf berwarna cerah.
- Ukuran lebar bagian dalam jalur penyeberangan disarankan sama dengan ukuran lebar jalur jalan yang ada didekatnya.
Dinding- dinding pembatas:

- Dinding pembatas dengan tempat duduk sebaiknya mempunyai tinggi sekitar

45 cm sampai dengan 55 cm serta lebar minimal 20 cm untuk dapat duduk santai di atasnya.
- Dinding pembatas yang rendah, yang berukuran antara 66 cm samapai dengan

99 cm, yang dapat dimanfaatkan untuk bersandar pada posisi duduk atau untuk duduk di atasnya.
- Dinding- dinding yang transparan, seperti bambu/ kayu, pepohonan, semak- semak maupun dinding- dinding semu yang terbentuk dari batas air sungai, cakrawala juga bisa dijadikan sebagai pembatas jalur pedestrian dengan jalur kendaraan yang masing- masingnya mempunyai tinggi yang bervariasi.

   

BAB III

PEMBAHASAN


3.1.            Lokasi
Lokasi Pedestrian Jl. Margonda Raya (Juanda – Tugu Jam)





Gambar 3.1 Jl. Margonda Raya Depok

3.2.            Jl. Margonda Raya Depok
Jalan Raya Margonda merupakan jalan utama di Kota Depok. Di sepanjang jalan ini terdapat beberapa kampus, pusat perbelanjaan, ruko, rumah sakit, hingga kantor pemerintah.
Sebagai jalan utama, tentu Jl. Raya Margonda memiliki potensi untuk menjadi ‘etalase’ yang menampilkan wajah Kota Depok. Namun, saat ini hal tersebut belum terlihat , Jl. Raya Margonda masih gersang, dan tidak ramah bagi pejalan kaki apalagi untuk pengguna difabel. Trotoar masih penuh lubang serta diserobot untuk lahan parkir.


3.3.            Permasalahan

·         Trotoar Jalan Margonda, Depok, dijadikan lahan parkir untuk pelanggan bisnis. Sempitnya lahan parkir restoran dan bisnis lainnya ditengarai menjadi penyebab. Terpaksa ditaruh (parkir-red) di trotoar daripada mereka tidak jadi bertamu.

·         Beralih fungsi menjadi lahan parkir, banyak sekali parkir liar di sekitar pedestrian margonda karena kurangnya lahan parkir kemudian pertokoan yang tidak mementingkan GSB dari pedestrian yang mengakibatkan parkir liar dan tempat parkir yang luasnya tidak mencukupi sehingga menghalangi pejalan kaki untuk melewati pedestrian. 
·         Desain pedestrian yang tidak sama, dan mengurangi kenyamanan (tidak berkonsep). Dan sempitnya pedestrian/ trotoar jl. Margonda raya.




·         Sering di jumpai lubung-lubang yang terdapat di pedestrian, karena kurangnya kepedulian pemerintah sehingga dapat membahayakan pengguna pedestrian.


·         Jalur pembuangan air yang rusak ,menyebabkan genangan air saat hujan. Karena tidak berfungsinya gorong – gorong air di dalam pedestrian

·         Tinggi pedestrian yang tidak memenuhi standar. Yang dapat membahayakan pengguna pedestrian

·         Tidak terdapat jalur khusus untuk penyandang tuna netra. Dan kurangnya tata hijau di pedestrian jl margonda raya sehingga terlihat gersang dan pejalan kaki lebih memilih menggunakan kendaraan dibandingkan berjalan kaki.

·         Kurangnya fasilitas umum di sepanang pedestrian Jl. Margonda Raya Depok seperti lampu, tempat duduk, tempat sampah, halte, dll

3.4.            Solusi
membuat redesign pada jalur pedestrian jl. Margonda raya. Dengan konsep Ecopark dapat diadaptasi sebagai upaya pengelolaan lansekap atau taman (bagian dari ruang terbuka hijau) yang ramah lingkungan dengan men- goptimalkan fungsi ekologisnya dan juga mengupaya- kan efisiensi pemanfaatan sumberdaya alamnya melalui disain dan tata ruang lansekap serta penataan tanaman.
prinsip ecopark adalah model pengelolaan lansekap yang memperhitungkan keberlanjutan ekosistem di dalam wilayah tersebut (Brundtland,1987).
 
Gambar Orchad Road Singapore

·         Memperlebar pedestrian Jl. Margonda Raya Depok.
·         Memberikan tata hijau supaya tidak terlihat gersang sehingga masyarakat depok lebih banyak 
beralih untuk berjalan kaki dibandingkan dengan kendaraan.
·         Memberikan fasilitas yang lengkap seperti lampu, tempat duduk, tempat sampah halte, dll.
·         Menggunakan hard dan soft material yang tepat.
·         Menngatur kembali ketinggian pedestrian.
·          Memberikan area jalan khusus tuna netra.

 


Gambar Redesaign Pedestrian






BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN


5.1       Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada bab sebelumnya dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Hasil penelitian yang diperoleh melalui pengamatan jalur pedestrian Jl. Margonda Raya Depok adalah jalur pedestrian di Jl. Margonda Raya Depok sudah tidak sesuai lagi dengan fungsinya. Hal tersebut juga tidak sesuai dengan teori mengenai jalur pedestrian dan teori mengenai kenyamanan pejalan kaki. Jalur pedestrian Jl. Margonda Raya Depok banyak digunakan untuk aktivitas-aktivitas lain selain untuk berjalan.

2. Dari hasil pengamatan perilaku pejalan kaki di sepanjang Jl. Margonda Raya Depok diperoleh hasil yaitu perilaku pejalan kaki sudah berubah dengan mengikuti perubahan lingkungannya. Dalam hal ini perilaku pejalan kaki Jl. Margonda Raya Depok lebih memilih menggunakan tepi jalan untuk berjalan daripada harus melewati jalur pedestrian yang sudah penuh dengan aktivitas berdagang dan parkir.

5.2       Saran

Adapun saran yang dapat diberikan untuk lebih memanfaatkan jalur pedestrian sebagaimana mestinya adalah sebagai berikut:

1. Bagi masyarakat yang menggunakan jalur pedestrian sepanjang Jl. Margonda Raya Depok sebagai tempat untuk berdagang dan berkumpul, sebaiknya tidak menggunakan jalur pedestrian sepenuhnya karena hal ini tidak sesuai dengan tujuan adanya jalur pedestrian. Memberikan ruang bagi pejalan kaki yang melewati jalur pedestrian tersebut untuk berjalan dengan nyaman.

2. Bagi pemerintah dan pihak yang terkait, sebaiknya melakukan revitalisasi terhadap jalur pedestrian di sepanjang Jl. Margonda Raya Depok dengan menertibkan pedagang/kios dan menertibkan tempat parkir yang dapat mengganggu pejalan kaki di jalur pedestrian. Membagi ruang publik yang sesuai dengan aktivitas dan fungsi kegiatannya masing-masing
Daftar Pustaka

Terstiervy Indra Pawaka Listianto, 2006 “Hubungan Fungsi Dan Kenyamanan Jalur Pedestrian”, Tesis, Universitas Diponegoro Semarang
Bab 3 Universitas Sumatra Utara
http://www.depoknews.id/trotoar-margonda-depok-jadi-sasaran-lahan-parkir/
http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/metropolitan/10/04/12/110572-warga-depok-minta-trotoar-margonda-lebih-diperlebar